Jam 1.32 Dini Hari

 Saya nggak tau harus mulai dari mana. Tapi ini tulisan pertama saya, yang saya harap bisa menjadi kenangan yang akan saya baca lagi suatu hari nanti. Semoga. Selama ini hp dan buku kecil selalu menjadi tempat saya bercerita, bahkan whatsapp yang isi grupnya hanya saya saja, menjadi sasaran tempat saya bercerita. Jadi daripada mencar kesana-kemari.. Mungkin alangkah baiknya semua saya tulis dan kumpulkan disini.


Saya orang yang sangat pemalu, tidak percaya diri, pendiam dan sangat sulit bergaul. Bahkan harus seseorang dulu yang berbicara kepada saya baru saya dapat membuka obrolan. Sesulit itu. Lelah rasanya hidup seperti ini, tapi inilah saya. Saya harus mencintai diri saya sendiri sebelum dicintai orang lain.

Sekarang saya menetap di bagian Selatan dari provinsi Kalimantan, sudah hampir 5 atau 6 tahun yang lalu saya datang ke provinsi yang baru ini, ke kota yang baru ini sekeluarga. Sya meninggalkan semua masa kecil saya di kota sebelumnya. Saya meninggalkan teman-teman, makanan favorite saya, sahabat saya, semuanya untuk pindah ke kota asing ini.

Saya pindah ketika lulus SMA. Tepat sehari setelah wisuda, seakan-akan paman dan bibi yang mengasuh saya ingin saya cepat-cepat pergi dari rumahnya. Keluarga saya lebih dulu pindah, meninggalkan saya yang harus menyelesaikan SMA. Wisuda tanpa orang tua, rasanya menyedihkan, tapi ya tidak ada pilihan lain lagi di kala itu. 

Setelah pindah ke kota yang baru, saya merasa sangat sulit beradaptasi dengan lingkungannya. Baik itu dari bahasa, makanan, budaya bahkan cuacanya yang 3x lipat lebih panas di siang hari dan bekali-kali lipat lebih dingin di malam hari. Saya harus memakai dua lapis selimut setiap menjelang pagi. Saya selalu bertanya-tanya kenapa harus saya yang mengalami hal ini, saya sangat sedih karena berpisah dengan teman-temanku yang saya kenal sejak SD, SMP dan SMA. Saya sering menangis dan mengurung diri di rumah, sangat jarang keluar rumah. Berat badan saya menjadi naik bahkan lebih dari 60kg disaat itu, pipi saya sangat tembem dan kata mama lengan saya seperti petinju.

Rasanya sangat frustasi. Tapi karena itu saya menjadi lebih perhatian dengan tubuh saya sendiri. Saya mulai perlahan merawat diri. Saya pelan-pelan olahraga dan memakai skincare. Saya baru mengenal skincare ditahun 2017 saat lulus SMA, cukup terlambat diusia saya saat itu.

Waktu SMA, jujur saya sangat dekil, hitam, kurus, jelek dan hidup. Saya sangat membenci penampilan saya bahkan ada beberapa orang yang menyerang dan menertawakan fisik saya. Saya jadi termotivasi menjadi lebih baik untuk diri sendiri. Perlahan kulit sawo matang saya yang hitam dekil tak terawat mulai cerah, tubuh saya yang kurus juga mulai ideal, muka saya yang gosong dan dekiiiil juga agak mendingan. Dan orang-orang mulai baik pada saya disaat saya juga mulai merawat diri. Beauty previlese itu emang nyata dan ada. Semakin baik penampilanmu, maka orang juga akan semakin menghormatimu.

Jadi, selama pindah ke kota ini ada minus dan plusnya. Plusnya adalah saya menjadi lebih perhatian kepada diri saya sendiri, menjadi lebih sabar dan lembut kepada orang lain, sebelumnya saya agak sedikit kasar dan blak-blakan, namun setelah pindah kesini saya banyak intropeksi diri dan bahasa sangat mempengaruhi perubahan diri saya sendiri. Saya menjadi orang yang lemah lembut karena bahasa disini lebih sopan dari seg kosa kata dan logatnya.

Komentar